VOICENUSANTARA. com – Paringin-Di saat banyak lembaga pendidikan bergulat dengan biaya operasional, Pondok Pesantren Fathur Rahim Sungsum Kec. Tebing Tinggi Kab.Balangan justru konsisten menjalankan kebijakan berani: seluruh santri mondok tanpa dipungut biaya SPP sejak pondok ini didirikan. Kebijakan tersebut ditegaskan langsung oleh pimpinan pondok, Ustad Supriadi.
Menurut Ustad Supriadi, keputusan membebaskan biaya SPP bukan kebijakan sesaat, melainkan prinsip yang diterapkan sejak awal berdirinya pondok dan berlaku untuk semua santri tanpa pengecualian.
“Sejak pondok pesantren ini dibuka, kebijakan kami jelas, semua santri mondok tidak dipungut SPP. Ini bentuk komitmen kami dalam pendidikan agama,” ujarnya. Saat dihubugi via whatapp pada Selasa (13/03/2026)
Kebijakan tersebut mendapat dukungan luas dari masyarakat dan wali santri. Orang tua merasa sangat terbantu karena tidak lagi terbebani biaya pendidikan, terlebih bagi keluarga yang memiliki keterbatasan ekonomi.
Namun di balik kebijakan tersebut, Ustad Supriadi mengakui bahwa pesantren menghadapi tantangan berat. Salah satunya adalah penurunan dukungan finansial di beberapa waktu tertentu, sehingga operasional pondok harus dijalankan dengan penuh kehati-hatian.
Meski demikian, pesantren ini tetap bertahan berkat bantuan dari para dermawan atau hamba Allah, termasuk adanya bangunan pesantren yang berdiri dari sumbangan bersejarah seorang dermawan. Pengelolaan pondok sendiri dilakukan langsung oleh ketua yayasan sekaligus pengasuh pesantren.
“Kami tidak menuntut. Bantuan bisa ada, bisa juga tidak. Semua kami serahkan kepada Allah,” ungkapnya.
Dalam kondisi keterbatasan, Pondok Pesantren Fathur Rahim Sungsum tetap berupaya menjaga kualitas pendidikan. Fokus utama pesantren adalah menanamkan pemahaman ilmu agama secara mendalam kepada santri, dengan kurikulum yang menitikberatkan pada Bahasa Arab, Ilmu Al-Qur’an, dan Fiqih.
Sistem pembelajaran diterapkan secara disiplin melalui jadwal tahsin dan hafalan Al-Qur’an yang terstruktur setiap hari. Ustad Supriadi menegaskan bahwa keterbatasan biaya tidak boleh mengurangi kualitas pembinaan santri.
Keberadaan pesantren ini diharapkan menjadi solusi bagi anak-anak yang sebelumnya tidak memiliki akses terhadap pendidikan agama.
“Harapan kami, dengan adanya pondok pesantren ini, anak-anak yang tidak mampu tetap bisa mendapatkan ilmu pengetahuan agama,” katanya.
Meski demikian, Ustad Supriadi secara terbuka menyampaikan bahwa pondok pesantren tidak bisa bertahan sendiri tanpa dukungan. Ia berharap adanya perhatian serius dari pemerintah serta terjalinnya kerja sama yang baik dengan berbagai pihak, termasuk wali santri.
“Kami berharap pemerintah bisa memberi perhatian dan dukungan. Kerja sama harus terjalin dengan baik agar pesantren ini bisa terus bertahan dan berkembang,” pungkasnya.
Voice Nusantara